Sunday, May 20, 2012 | Register | Log in

PPM, Ospek Ala Kampus Ungu

Monday, October 4, 2010, 0:51
This news item was posted in Laporan, Topik Utama category and has 0 Comments so far.

cover-buletin-djournal-edisi-khusus-I“Kalo bisa lebih seru gitu loh. Lebih seruan ospek SMP”

PPM (Penggalian Potensi Mahasiswa) merupakan ospek di STMIK Amikom Yogyakarta. Kegiatan ini bersifat wajib. Dilaksanakan pada hari Selasa – Kamis, 28-30 September 2010, bertempat di lapangan parkir STMIK Amikom Yogyakarta. Dalam acara tersebut terdapat serangkaian acara untuk mengenalkan kampus dan dunia mahasiswa. “PPM itu adalah awal pengenalan siswa menjadi mahasiswa,” ucap Panji Tri Nur Trisno, Ketua Sema (Senat Mahasiswa).

“Metamorfosa” merupakan tema PPM kali ini. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan holistik, yang mencakup empat perkara yaitu IQ (Intelegent Quotient), SQ (Spiritual Quotient), ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) dan HQ (High Quotient).

“Metamorfosa ini diibaratkan dengan perubahan kepompong menjadi kupu-kupu”, jelas Kusnawi, S.Kom., sebagai ketua panitia lembaga. Itu sebabnya acara ini diisi dengan seminar–seminar dari pembicara nasional serta hiburan. Bahkan pada salah satu susunan acara memberikan waktu untuk gerak jalan. Namun acara itu dibatalkan sebab kekurangan panitia dan kurang efektif.

Perjalanan konsep acara ini pun melewati liku yang cukup rumit. Panitia telah melakukan persiapan awal dengan tema “metamorfosa”. Kepanitiaan telah tersusun. Proposal dan perencanaan awal telah dijalankan. Tiba-tiba dari pihak lembaga memutuskan untuk mengganti tema tersebut dengan “holistic”. Alasan dari pihak lembaga adalah karena tidak berhasilnya mahasiswa dalam menggelar PPM tahun lalu.

Tak hanya mengganti tema, pengurangan panitia juga dirasa perlu. “Pihak lembaga merasa panitia cukup 100 saja,” tutur Sekar selaku seksi acara pada event PPM kali ini.

Selain itu lembaga menjadi penanggungjawab acara ini, sedangkan mahasiswa membantu dalam kepanitiaan. Keputusan ini sesuai dengan surat edaran Dikti Nomor 38/Dikti/KEP/2000, Tentang Pengaturan Kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi.

“Aturan tersebut belum disosialisasikan, sehingga dari pihak panitia mahasiswa sudah terlanjur membuat konsep, tetapi tidak sesuai dengan yang telah disepakati lembaga. Akhirnya semua panitia inti dikumpulkan dan di situ baru disosialisasikan mengenai surat edaran Dikti dan kesepakatan lembaga.

Maka setelah itu, konsep diambil alih oleh lembaga dengan maksud untuk membantu kepanitiaan”, jelas Rinto Tri Jatmiko selaku koordinator acara.

Perubahan konsep sempat menjadi perdebatan panjang dan rumit. Bukan hanya dari pihak panitia awal saja yang melakukan penawaran terhadap keputusan penggantian tema. Beberapa kali Sema memberikan pemahaman kepada lembaga tentang beberapa acara yang dirasa perlu direvisi, diantaranya adalah gerak jalan. Susunan acara yang dilaksanakan merupakan hasil keputusan dari pihak lembaga. Namun, panitia dapat melakukan revisi untuk beberapa hari.

Data dari sekretariat menyatakan bahwa dari 2466 mahasiswa baru yang terdaftar, hanya 2080 yang mengikuti PPM. Ada beberapa perbedaan yang terjadi pada peserta PPM. Mahasiswa selain mahasiswa baru yang mengikuti PPM tahun ini mendapatkan posisi yang sangat istimewa. Karena adanya ketakutan dari pihak lembaga. “Posisi mereka sebagai pengamat,” jelas Mochammad M Imam selaku ketua panitia. Ketakutan dari pihak lembaga adalah adanya kemungkinan senioritas yang terjadi selama PPM.

Dana untuk PPM berasal dari lembaga dan sponsor. Pencairan dana dilakukan dalam tiga atau empat tahap karena kalau dicairkan sekaligus, pertanggungjawabannya susah.

Sampai saat ini, pencairan dana baru dilakukan selama satu kali. “Sebelum mencairkan dana tahap dua, administrasi dan LPJ (Laporan Pertanggungjawaban) tahap sebelumnya harus sudah beres,” tambah Salmuasih selaku bendahara panitia.

Menurut Kusnawi, S.Kom., masih ada beberapa kendala dalam persiapan acara ini yaitu dalam komunikasi dan teknis. Sementara itu, Robi, mahasiswa baru asal Kalimantan Selatan berkata, “Kalau ospek yang baik itu kita diajak main, jangan monoton, ngomong terus. Capek! Ngomong satu arah itu yang capek yang dengerin”. Hal senada diungkapkan seorang mahasiswi baru yang tidak mau disebutkan namanya, “Kalo bisa lebih seru gitu loh. Lebih seruan ospek SMP.”

Oleh Ika Nurindah, reportase bersama Sugiharti, Ahmad Fikri Faqih Haq, Rivki Novita.

Tulisan ini merupakan topik utama pada buletin D’Journal edisi khusus PPM-01 tanggal 30 September 2010. Buletin D’journal ini bisa diunduh dalam formaf .pdf di sini.

Ngaliman, Sugiharti,
Share

Tulisan Terkait

About journal

LPM Journal STMIK Amikom Yogyakarta

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.