Sunday, May 20, 2012 | Register | Log in

Mengendus Dana yang Hangus

Friday, March 4, 2011, 1:58
This news item was posted in Laporan, Topik Utama category and has 1 Comment so far.

ilustrasi/(Journal/Adam)

Di lingkungan Amikom, ternyata tidak semua organisasi mahasiswa (orma) menghabiskan jatah dana tahunan yang dialokasikan Lembaga. Lalu, kemana larinya dana tersebut? Kesempatan perbincangan dengan Suyatmi, Sekretaris Pembantu Ketua (Puket) III, menjelaskan bahwa tidak ada alasan untuk mengembalikan sisa dana ke lingkaran alokasi dana orma. Dana yang berlebih akan kembali ke Lembaga untuk diinvestasikan ke hal yang lain. “Untuk investasi yang lain, misalnya gedung, wall Mayapala. Karena wall itu punya Lembaga bukan punya Mayapala. Jadi kalau nggak habis atau nggak diambil kembali lagi ke Lembaga,” ungkapnya. (02/04)

Hal ini menarik karena alokasi untuk investasi seharusnya sudah jelas. Untuk hal ini Suyatmi memiliki alasan tersendiri, “Ya iya sih. Tapi masa’ ini (karena dana orma, -red.) sisa, ditambahkan untuk orma, enggak itu.” Ia menjelaskan bahwa dana orma per tahun memiliki perhitungan tersendiri yang dirumuskan melalui rapat pembina orma. Rumus terakhir yang dipakai adalah jumlah mahasiswa baru yang registrasi dikali Rp 105.000,-. Rumus ini sudah melalui sejarah metode-metode perhitungan sebelumnya, yang menurutnya sudah ideal.

Sebagaimana diketahui mahasiswa yang aktif di orma bahwa sebagian dari uang registrasi mahasiswa akan kembali lagi ke mahasiswa berupa dana untuk kegiatan mereka. Jumlah mahasiswa di kampus ini terus meningkat setiap tahunnya. Melihat rumus di atas, jelas bahwa semakin tinggi jumlah mahasiswa, semakin banyak pula alokasi dana untuk orma.  Dana tersebut dibagi dalam berbagai kelompok yang berbeda seperti orma yang bergerak di bidang keilmuan, minat dan bakat, serta hobi. Selain dana inti pada masing-masing orma, ada pula dana cadangan yang digunakan untuk delegasi mahasiswa yang dikirim ke luar kota.

Pertanyaan timbul ketika ada beberapa orma yang kebingungan dengan status dana sisa yang ternyata tidak bisa diambil lagi untuk periode berikutnya. Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika (HMJTI) misalnya. Menurut Ketua HMJTI,  I Made Deni Artika Kurniawan, dana HMJTI pun sering sisa. Deni juga berharap ada kejelasan mengenai sisa dana tersebut. Paling tidak ada laporan sehingga bisa menerangkan kegunaan dari dana mahasiswa tersebut dipakai untuk apa saja.

Menurut Deni, Lembaga hanya mensosialisikan alokasi total dana yang diterima pada tiap orma, dana lain-lain dan juga dana cadangan. Sedangkan untuk transparansi dan sosialisasi itu yang tidak ada sejak dulu. “Ada uang cadangan 20 juta misalnya. Nah sosialisasi yang disebut tidak ada itu, 20 juta itu masih ada atau tidak. Kalau masih ada di mana, apakah bisa diambil juga prosedurnya seperti apa. Tapi kalau sudah tidak ada, itu dipakai untuk apa dan oleh siapa,” ujarnya.

Deni juga mengungkapkan keinginannya untuk mempertanyakan transparansi keuangan tersebut kepada Lembaga. Tetapi ia pesimis pertanyaan-pertanyaan itu pasti akan mental. Dalam artian, sebelum bersosialisasi, Lembaga tentunya melakukan persiapan tentang pertanyaan yang mungkin timbul. “Misalnya ketika mahasiswa bertanya begini, jawabnya harus ini,” ujar Deni. Bahkan, menurutnya mahasiswa terbiasa didoktrin bahwa Amikom telah cukup sukses, “Amikom dulunya kecil dengan gedung yang imut sekarang sudah besar. Ketika didoktrin itulah kita menjadi tidak kritis lagi dengan uang.”(02/01)

Deni berharap Amikom paling tidak punya laporan mengenai masuknya mahasiswa per tahun juga total dana yang dikeluarkan pertahun. “Tidak perlu sedetail mungkin, cukup berikan bayangan aja tentang keuangan tersebut,” ujarnya.(02/01)

Panji Tri Nur Trisno, Ketua Senat Mahasiswa (Sema), mengaku mengetahui status sisa dana tersebut. “Dana tersebut digunakan untuk inventaris kegiatan LPM tanpa mengurangi dana tahunan orma itu sendiri.” (02/01)

Panji juga berpendapat bahwa seharusnya Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) dari Lembaga diumumkan ke mahasiswa. “LPJ itu mungkin logikanya ada, tapi transparansinya itu yang dipertanyakan. Dalam artian LPJ-nya harus ditransparansikan pada mahasiswa.  Selama ini belum pernah ada mengenai hal tersebut (transparansi, -red.),” ujarnya. (02/01)

Menanggapi hal tersebut, Suyatmi berpendapat bahwa orma lah yang harus membuat LPJ, “Pertanggungjawaban berupa LPJ nanti ke pimpinan bukan ke mahasiswa,” ujarnya (02/04). Menurutnya tidak perlu ada laporan pertanggung jawaban keuangan dari Lembaga ke mahasiswa. “Kan masing-masing sudah tau,” tambahnya (04/02).

Berbeda dengan Panji maupun Deni, Tri Suaprizal Fahri, Ketua UKM Tae Kwon Do, mengungkapkan ketidaktahuannya mengenai alokasi dana tersebut. Ia mengetahui alokasi dana tersebut beserta prosentasenya hanya dari Sema, bukan dari Lembaga. Dia juga mengatakan bahwa baru pada tahun ini mendapat undangan mengenai sosialisasi dana. “Tahun ini pernah, tahun sebelumnya nggak pernah dapat undangannya yang di ruang Puket III itu. Itupun saya tidak datang karena lupa. Biasanya hanya di sekber aja, itupun tanpa ada dari pihak Lembaga,” ungkapnya. (02/01)

Disinggung mengenai transparansi dana orma, mahasiswa Teknik Informatika angkatan 2007 tersebut mengungkapkan ketidaktahuannya, “Dan yang nggak jelas lagi UKM atau orma yang ada sisa dana itu nggak jelas uangnya kemana karena di tahun kepengurusan baru juga nggak bertambah.” Bahkan menurutnya ketidakjelasan tersebut juga pernah dibahas dalam Dialog Lembaga Mahasiswa (DLM) beberapa tahun yang lalu namun pihak Lembaga sendiri belum memberikan jawaban yang sesuai dengan harapan perwakilan dari UKM Tae Kwon Do tersebut.

Mengenai metode pengalokasian dana orma, Erik Hadi Saputra, Kabag Humas Amikom memiliki pendapat sendiri. Menurutnya, metode Amikom dalam alokasi dana sudah cukup baik. “Mana ada kampus lain yang memberi dana ke orma? Justru kelemahannya, mahasiswa jadi kurang kreatif untuk mencari dana. Malah ada UKM yang dikasih dana tapi kegiatannya nggak ada,” ungkapnya (04/02).

Pernyataan ini ternyata berbeda dengan kenyataan di kampus lain. Sebagai contoh, Mohamad Jepry Adisaputro, Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa Himmah Universitas Islam Indonesia dalam perbincangan dengan Journal menceritakan perihal alokasi dana untuk unit-unit kegiatan mahasiswa di UII. Menurutnya, dana untuk orma dikelola oleh mahasiswa sendiri, melalui Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM).

Dana tersebut diperoleh dari dana iuran mahasiswa tiap bulan yang berbeda jumlahnya tiap angkatan. Setelah dikurangi dana taktis sebesar 10%, dana tersebut dibagi menjadi dua. Sebanyak 27,8% dialokasikan untuk kegiatan mahasiswa tingkat universitas seperti DPM dan Lembaga  Eksekutif Mahasiswa (LEM). Sedangkan sisanya sebanyak 72,2% untuk kegiatan tingkat fakultas. LPM Himmah sendiri mendapat jatah 38% dari keseluruhan alokasi untuk Lembaga khusus.

Tak jauh berbeda dengan sistem di STMIK Amikom, semua kegiatan orma memberikan LPJ. Dalam hal ini, orma di UII menyampaikan LPJ-nya ke DPM. Menurut Jepry, seharusnya DPM menyampaikan LPJ saat forum Keluarga Mahasiswa (KM) UII sebagai bentuk transparansi, namun saat ini tidak dilaksanakan. Tetapi apabila ada yang meminta LPJ maka DPM akan memberitahukannya. RGD

Share

Tulisan Terkait

About journal

LPM Journal STMIK Amikom Yogyakarta

You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Mengendus Dana yang Hangus”

  1. Ngaliman said on Thursday, March 10, 2011, 2:03

    Disini uang sebagai amanah, dimana setikdaknya amanah yang ada benar-benar dapat direalisasikan pertanggung jawabannya entah dengan manusianya atau dengan Tuhan.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.