Sunday, May 20, 2012 | Register | Log in

[musik] “Venomous”, Wujud Kekuatan Baru Burgerkill

Tagged with: , ,
Tuesday, August 9, 2011, 20:12
This news item was posted in Review category and has 0 Comments so far.

Cover album keempat Burgerkill, "Venomous". sumber: google

“We are here to dominate, We are stronger than ever before”- Burgerkil ‘Under The Scars’

Penggalan lirik lagu Under The Scars tersebut menunjukkan seberapa optimis mereka dengan apa yang mereka miliki sekarang. Kehilangan vokalis karismatik Alm. Ivan Firmansyah a.k.a Ivan Scumbag tidak menjadikan Burgerkill kehilangan daya untuk tetap ‘menyerang’. Bahkan setelah masuknya Vicky menggantikan posisi Ivan, Burgerkill seperti mendapat amunisi baru. Venomous adalah bukti  seberapa berbahaya mereka sekarang.

Band metal asal Ujungberung, Jawa Barat ini selalu menunjukkan progres di setiap albumnya. Rilisan pertama mereka Dua Sisi (2000) yang sangat kental nuansa hardcore punk-nya, kemudian Berkarat (2003) mereka mulai memasukkan unsur progressif metal, namun tetap tidak meninggalkan ciri di album pertama. Beyond Coma and Despair (2006) album dengan musik yang lebih berat, gelap dan tebal. Dan kini Venomous dengan Vicky menjadi sentral kekuatan baru mereka, musik Burgerkill menjadi lebih variatif. Di Venomous mereka punya kecepatan drum blast ala death metal, riff gitar rapat dan cepat ciri band-band metalcore, groove nyaman dan ketukan ganjil, melaju bersama lirik yang lebih positif, radikal namun tetap terasa sisi memberontak dan gelap ciri khas Burgerkill. Berbeda dengan album mereka sebelumnya yang liriknya terasa personal dan ‘Ivan-sentris’ kali ini mereka mengangkat sesuatu yang lebih luas. Seperti kondisi sosial bahkan politik. Lirik personal masih ada di beberapa lagu, namun sifatnya lebih kepada pesan optimisme dan buah pemikiran mereka tentang kehidupan, bukan kematian seperti yang ditonjolkan di album mereka sebelumnya. Di album ini semua lirik ditulis dengan Bahasa Inggris, mungkin karena album ini juga dirilis di luar negeri oleh Xenophobic Records, label rekaman yang bebasis di Australia.

Burgerkill Ketika Tampil Di Bandung Berisik V. sumber: google

Dibuka dengan Into The Tunnel, intro berupa sound effect yang pada bagian akhirnya seolah membawa kita pada sebuah gerbang, gerbang yang menjadi batas antara dunia kita dan dunia Venomous. Berlanjut ke lagu kedua berjudul Age Of Versus lagu bertempo cepat yang bagian intronya mengingatkan pada band metalcore Chimaira. Seperti biasa gabungan hentakan double bass drum yang menggerinda dan hyperblast beat rapat oleh Andris sang drummer, sangat berciri khas Burgerkill. Disusul berikutnya Under The Scars. Lagu ini memiliki intro sangat cepat lalu temponya menurun di tengah. Lirik yang (agak) bisa dinyanyikan. Lagu ini mungkin menjadi lagu yang emosinya paling terasa. Terasa dari cara bernyanyi Vicky yang meraung-raung menggunakan variasi karakter suara yang berbeda-beda. Kombinasi gitar dari Agung dan Eben serta ketukan-ketukan ganjil di beberapa bagian semakin memperindah komposisi lagu yang menyinggung tentang tingkah laku pemimpin Indonesia ini. Trough The Shine, lagu bertempo sedang yang sepertinya terpengaruh ciri musik metalcore era As I Lay Dying, Caliban, Darkest Hour, dll. Yang menggelitik di lagu ini adalah beberapa bagian eksplorasi melodi gitar yang cepat dan kejam! Interlude yang megah di tengah dan reff yang bisa jadi bagian untuk bernyanyi bersama-sama saat konser. House Of Greed, lagu 7 menit yang sangat progressif metal, bertempo sedang terkesan tenang dan berhati-hati namun menyimpan potensi sangat mengerikan di semua bagian lagunya. Teknik vokal Vicky yang mumpuni terlihat pada caranya menyanyikan bagian refrain, berteriak tapi bernada mengingatkan kita pada Phil Anselmo vokalis Pantera. Dinamis dan tidak terduga di tengah hingga akhir. Lagu ini berpotensi untuk jadi single andalan di album ini.

This Coldest Heart. Sedikit pendinginan setelah kita diterpa lagu-lagu penggerinda. Petikan akustik dan melodi yang terkesan lugu, polos namun sangat merayu dan beracun. Mengingatkan ‘To Live Is To Die’ milik Metallica. Seolah menjadi antiklimaks dan stasiun untuk mengisi ulang mimpi-mimpi kita, harapan dan cinta kasih ketika sebelumnya emosi kita dikuras habis. Langsung For Victory. Entah kenapa lagu ini terasa membosankan, datar-datar saja tidak seperti 9 lagu lainnya. Beranjak dari sesuatu yang datar menuju sesuatu yang berliku, My Worst Enemy. Lagu dengan tingkat pemenuhan untuk kebutuhan skill paling gila di album ini. Melodi cepat lagi-lagi muncul di awal, hyperblast beat sangat cepat ala brutal death metal seperti Suffocation. Ketukan patah-patah dan riff-riff nakal yang ‘matematis’ di sana sini menawarkan sensasi mathcore Protest The Hero maupun The Dilinger Escape Plan. Agresif dan melompat-lompat. Disinilah sepertinya kapasitas kemampuan dari masing-masing personil ditunjukkan. Ramdan sang bassis sekaligus penjaga konsistensi tempo dan pola di lagu ini. Intro yang sedikit mengingatkan ‘Redneck’-nya Lamb Of God. Dan bagian yang paling indah adalah menit-menit terakhir saat Agung memainkan melodi ala virtuoso seperti Joe Satriani. Sepertinya dewa gitar menitis selama 1 menit pada sosok Agung untuk bagian ini. Manis sekali! Only The Strong, mengakhiri laju racun Venomous. Cocok sekali untuk lagu ending, terdengar riang, terang dan positif. Sound yang cenderung treble dan ringan. Namun masih memiliki porsi gelap-nya di begian tengah. Interlude dengan progresi chord blues seperti yang dimiliki beberapa lagu milik Lamb Of God. Lagi-lagi karakter mirip Phil Anselmo terdengar.

Burgerkill dengan formasi terbaru (dari kiri : Eben, Ramdan, Vicky, Andris, Agung). sumber google

Berakhir? Tunggu dulu, kejutan hadir kembali di ujung album. Biarkan kesunyian menyergap, samar-samar intro petikan gitar yang kelam akan hadir. An Elegy, lagu yang akan mengakhiri. Lagu yang sangat suram dan kental dengan nuansa kedukaan. Fadly vokalis Padi kembali membantu untuk lagu ini. Vicky bernyanyi biasa tanpa berteriak di sini. Mengingatkan balada seperti ‘Cemetery Gates’.  Balada yang mengalun gelap, lambat namun kuat dan marah ditengah. Tipikal Burgerkill! Ditambah suara violin yang menguatkan lagu ini seolah menjadi hymne ’selamat jalan untuk selamanya’ yang gagah.

Terlihat kekuatan masing-masing personil di album Venomous. Masing-masing memiliki porsi tarung sendiri dan mereka berhasil menang dengan gemilang. Karakter suara Ivan yang kuat dan provokatif berganti menjadi Vicky yang melodius dan indah. Amarah dan hujatan tersaji secara implisit namun tetap bisa dirasakan. Jika bersama Ivan kita bernyanyi dan marah bersama, bersama Vicky dan Burgerkill yang baru hal itu menjadi sebuah pilihan. Akankah kita bernyanyi bersama, atau saling menghempaskan badan di konser, atau mungkin ternganga menikmati indahnya sebuah kekuatan baru yang keras, beringas namun dengan sisi melodius dan emosi yang tertata di setiap lagu.

Itulah Venomous, wujud pembuktian dari Burgerkill. Band yang sekarang terlahir kembali dengan kekuatan baru, semangat baru dan siap untuk menjadi duta, duta yang akan membawa Metal mendaki kasta yang lebih tinggi di industri musik Indonesia.iok

Share

Tulisan Terkait

About satrio rizki

70-90's Rock, Heavy Metal, Punk, Hardcore, Grunge, Ska, Britpop, Rap, Koplo. Anak haram kawinsilang siklus tren dan kedok self improvement.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.