Sunday, May 20, 2012 | Register | Log in

Empat Merapat (Bagian 2)

Wednesday, July 27, 2011, 18:10
This news item was posted in Pojok Sastra category and has 2 Comments so far.

Cerita sebelum nya di Empat Merapat (Bagian 1)

Sesampai di shelter tujuan terik mulai membakar kami panas siang itu sepanas lobi neraka.. sherter yang bejarak sekitar 100 meter dari JEC serasa sekilo meter siksaanya . di luar pameran dapat terlihat mural-mural pada triplek 2×2m yang berjajar rapi, aku tertarik mengamati beberapa gambar itu, terlihat seorang dengan topeng gulat menjilat muka laki-laki yang ketakutan dan menunjukan ekspresi jijik , di bawah nya bertuliskan pintar-pintar menjilat penjual sampai harga turun, atau tulisan shutdown dalam bagground hitam, dan ada lagi sebuah gambar yang dibawahya ada tulisan yang sangat saya sukai ”tehnologi membuat kita malas,” menurutku karya itu seharusnya diletakan di depan pintu masuk atau malah diperbanyak dan di pajang disetiap stand pameran.

Mulai memasuki gedung mulai terasa kepadatan nya, tumpah ruah barang barang IT disana. tak ketinggalan spg spg cantik sebagai bumbu pelengkap bertaburan, aku rasa banyak orang yang hanya ber lama-lama menanyakan produk kepada spg namun tidak membeli produk nya. kami berhenti dan mengamati monitor informasi touch screen dan mencoba menggunakan nya atau malah merusak nya, aku mulai penasaran menggunakan nya dan mulai memencat mencet sang layar tapi tidak ada perubahan yang terjadi . tiba tiba pane campur tangan, penasaran mungkin “coba saya liat,” ucapnya . dia mulai menggeser geser, menekan, dan sekali kali memencet layar dengan keras dan terlihat peta navigasi dan letak stand stand pameran, mungkin hanya dengan cara kasar Anang menaruh kedaua tangan nya dan mengobok obok “ gini caranya, gini caranya,” ucap nya. dan layayar pun menampilkan display peta bergerak gerak ke kiri dan kanan seperti kebingungan pember menarik nya dan ahirnya kami menyudahinya dan mulai menelusuri labirin-labirin benuh benda asing yang dikerubungi orang orang.

mereka terlihat sangat antusias meraba-raba produk terbaru dalam perhelatan pameran tehnologi ini, semua tumpah ruah seperti pasar dan mereka yang suka tehnologi dan punya uang pastinya banyak menenteng plastic berisi kardus kardus besar. anang selalu berhenti dan mengambil brosur di setiap stand yang ia lewati. aku bertanya “untuk apa kertas-kertas itu,” “mau aku sebarin ke anak-anak kos,” Jawab nya cepat. aku hanya diam dan memandang nya keheranan, tak sangka yang lain pun mulai ikut-ikutan mengambil brosur meski tidak sebanyak anang.

aku mulai merasa sangat ketianggalan soal tehnologi , aneh rasanya tubuh ku muali mengecil aku merasa bodoh dan aku serasa diantara robot-robot raksasa yang dikendarai orang orang pintar. diantara hiruk pikuk manusia itu aku hanya memandang sesekali menempelkan kedua tangan ku yang semakin mengecil pada kotak-kotak kaca yang di dalam nya penuh barang-barang canggih. mulut ku pun tanpa dikomando mulai komat-kamit dengan sendirinya “asu,asu,asu keren,keren,keren, mahal,mahal,mahal,” . dan untuk mengobati gundah gulana hati ku ini yang mulai gelisah karena tak mungkin membeli aku mulai mengikuti langkah anang. Ya.. mengumpulkan brosur, dan tidak memiliki setidaknya bisa mengamati meskipun hanya berupa gambar kecil dalam brosur.

Kami mulai berjalan lebih dalam, dalam dan jauh berputar – putar dalam labirin penuh robot robot pembual bernama tehnologi dan kami tergiur mengikuti alur nya. mengalir seakan tak tau jalan keluar, sepanjang kaki kami melangkah hanya ribuan kekaguman yang ada dibenak kami tanpa bisa meraih nya. Tak terhitung berapa banyak kami berhenti sekedar untuk memuja benda-benda serupa berhala itu, sampai ahirnya kami tehenti lagi pada sebuah personal computer yang sedang memainkan game balap mobil terbaru dengan gambar yang sangat istimewa. game itu ditampilkan dengan tiga buah perangkat lcd monitor, satu lcd manampilkan pemandangan dari dalam kaca depan mobil dan dua lcd lainya masing masing menampilkan pandangan dari dalam kaca jendela kanan dan kiri mobil, yang serasa tampak nyata.  sedangkan casing cpu dibiarkan telanjang memamerkan aurat mesin nya terlihat sangat garang tapi cantik, hatiku berdebar kencang sekencang kencang nya seakan sedang bertemu velove vexia dan dia menyapa “hai fery..,” lalu keluarlah sayap-sayap dari punggungku, aku terbang, aku terbang… di antara awan-awan putih dan birunya langit tanpa batas, dan semakin tinggi dan dinggi.. sungguh bahagia itu sederhana meskipun hanya sementara. Kami berebut mencobanya, memainkan nya, dengan penuh puja-puji tanpa henti kami keasikan mencobanya. mengambang senang seakan tak sadar berada dalam sebuah pameran .

Saat mata terlalu bermanja seakan otak tidak lagi mengisaratkan bahwa si kaki mulai menjerit kelelahan berjalan dan berdiri hampir ber jam. sampai akhirnya kami memutuskan untuk menuju jalan pulang namun tujuan kami berubah ketika melihat hamparan kursi santai yang terbuat dari kayu dan di dominasi besi terhampar di sisi pojok ruang pameran, setengah dari kursi-kursi itu berisi orang-orang tua yang bersama anak anak nya yang kebanyakan masih seumuran sd, dan sebagian kecil lainya terlihat beberapa orang membaca brosur dan membolak balik dengan tatapan serius. Di depan hamparan kursi nyentrik itu ada sebuah panggung kecil berselimut karpet merah yang dihiasi dengan sebuah sofa panjang, di sisi samping kanan dan kirinya terlihat beberapa pamflet. kami tak hiraukan apapun acaranya dan apakah kami bisa seenak nya duduk untuk mengikuti acaranya. yang ada kami hanya ingin sejenak melemaskan kaki di kursi itu, kursi yang tenyata digantungi sebuah kertas berukuran tidak lebih besar dari KTP dan kertas itu bertuliskan for sale Rp: 400.000 aku hanya menghela nafas sambil membuka berlembar brosur yang telah terkumpul. Bersambung lagi di Empat Merapat (Bagian 3)

Share

Tulisan Terkait

About feryeka

tidak tau

You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Empat Merapat (Bagian 2)”

  1. LPM Journal » empat merapat said on Wednesday, July 27, 2011, 18:16

    [...] di EMPAT MERAPAT sambungan2 Tulisan TerkaitEMPAT MERAPAT [...]

  2. LPM Journal » EMPAT MERAPAT (part3) said on Wednesday, July 27, 2011, 18:26

    [...] Cerita sebelum nya di EMPAT MERAPAT (part2) [...]

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.