Setelah usai kuliah aku biasa nongkrong di depan kelas. tapi entah mengapa hari ini agak kelewat lama kami berdelapan masih asik membuka sesi curhat di depan kelas, mulai dari ngobrolin para wanita kelas lain yang berlalu lalang sampai tugas kuliah yang tak kunjung selesai. obrolan pun semakin ngelantur tak karuan sampai akhirnya lingkungan luar kelas benar benar sepi. “cuaca panas benget hari ini,” keluh anang sambil mengibas kibaskan rambut gondrong kebanggaan nya. Sementara itu sambil membenarkan poni lempar nya pember mulai ngelantur “cech yo, ayo cech yo,” ucap nya dibuat buat. JEC (Jogja expo center) maksud nya. “maatne panas gini mau ngapain ntar sore dah kalo perlu sambil gowes ,” aku menyaut. “iya kurang kerjaan aja,” anang ikut berkomentar. tiba-tiba pane mengeluarkan argument dari mulut nya “pake busway aja,” sambil memainkan tangannya yang dimasukan di kedua saku jaket nya. dan kurang dari satu detik semuanya berkomentar “oh aku belum pernah,” “ayo ayo, boleh aku juga belum pernah,” tiga dari kami mulai mulai ramai tapi entah kenapa pane si pembuat oceh tiba tiba komentar “hah beneran ini,” kami menatap nya sepertinya dia mulai mengundurkan diri tapi kemudian kami berhasil menyeret nya, dan empat dari kami ahirnya tertinggal mereka hanya diam dan menjadi penonton. mereka seakan tidak berani mengambil keputusan. “Ah cemen ah ngapain gak brani,” kami mengejek sambil meninggalkan mereka. meskipun aku juga dalam hati bicara “hah beneran ini gak salah kirain bercanda”.
“Mau kemana mas,” sambut penjaga shelter. “ ke jec pake jalur mana ya pak?,” aku mulai bertanya “tigaB langsung mas, berapa orang? oh 12 ribu,” dan empatbuah kartu tebal diberikanya. kami berempat tiba tiba saling pandang. Hah gimana caranya? Kami benar benar tidak tau apa fungsi kartu itu dan sepertinya kami berempat punya pikiran yang sama, sebuah pemikiran untuk tidak memakan opsi bertanya, karena hal itu serasa mengorbankan hargadiri kami sebagai mahasiwa. tak sekedar mahasiswa, tapi juga mahasiswa di bidang tehnologi informasi. kami tidak mau bapak penunggu shelter itu menjadikan kami sebuah tranding topic. (ada mahasiswa di kampus computer sok ternama itu, tak tau guna karcis trans) mau taruh mana muka kami… lalu pandangan ku mulai tertuju pada sebuah lobang berbentuk persegipanjang seukuran kartu yang kami miliki, lobang itu berada pada sebuah kotak yang menyangga portal kecil yang terbuat dari pipa besi, dan pikiran ku mengambang seakan berada dalam sebuah filem tepatnya filem holliwod. Aku ingat kalo kartu seharus nya dimasukan kelubang itu lalu kartu itu akan keluar lagi disisi lain seperti yang ada disetasiun modern disana. kartu itupun aku masukan ragu-ragu dan kartu itu tertarik dengan sendirinya aku kaget, aku mulai melangkah sambil mendorong portal itu dan portal kecil itu bisa berputar saat ku lewati “ yeah…,” Tapi yang aneh tidak ada lubang untuk keluar kartu itu lagi. aku menunggunya penasaran, kenapa kartu itu tidak keluar dari sisi lainya seperti di filem-filem Sampai teman terahirku masuk aku tidak liat kartu itu keluar lagi, dan sampai akhirnya Pember bertanya, “eh itu kartunya kita gak pegang lagi?” Oh berarti bukan Cuma aku yang penasaran dan shelterpun mulai disambangi orang orang yang ingin menunggangi bus hijau itu, terlihat juga ada nenek- nenek yang datang dibantu seseorang dari sisi yang berseberangan.
Setelah menit ke limabelas sang penunggu shelter berdiri dan mengingatkan bus trans segera datang. tiba-tiba sebuah bus berwarna hijau dengan cepat menghinggapi sisi samping shelter yang menghadap jalan, entah bagai mana sang sopir bisa memposisikan busnya seperti itu, kami pun merapat dalam antrian masuk kedalam bus dan merasa kegirangan atau apalah nama nya, mungkin serasa seperti anak kecil yang baru masuk ke toko mainan idamanya.. kami pun duduk terpisah aku duduk di sebelah kanan, pane dan pember di depanku tepat nya di barisan kursi sebelah kiri, dan anang memilh duduk dipojokan belakang, dan entah kenapa aku tak bisa menahan rasa aneh ini mulutku senyum dengan sendirinya merasakan kenyamanan dalam keasingan sebuah armada lama yang baru aku sambangi, ruangan didalam bus terlihat lumayan luas kursinya terlihat lebih sedikit dari bus biasa dan bagian tengah di biarkan kosong, diatas nya terlihat pegangangan tangan untuk pegangan saat berdiri, di setiap sisi tepasang kaca transparant yang sedemikian besar seakan aku melihat dari dalam aquarium. dari kaca-kaca besar itu aku bisa melihat bagunan-bangunan dan jalan yang selalau aku lewati setiap hari lengkap dengan keramaian hiruk pikuk mereka yang selalu terburu-buru dijalanan. Dan juga pesawat yang sedang terbang diangkasa yang membiru, tapi seakan tidak terlihat bergerak hanya mengambang saja. kali ini aku benar -benar bisa menik mati detail nya, mungkin karena biasanya aku Cuma pengandara motor dan hanya melihat pandangan kedepan tanpa pernah memperhatikan, memeng cukup lenggang isi bus yang kami tumpangi siang ini.
Aku dan pane mulai membuka sesi sok tau, kami mulai membicarakan rute mana yang akan di lewati dan kami mulai menebek nebak, adu argument pun di mulai setidak nya hanya untuk sebuah rute ada kekawatiran kalau rute yang kami lewati akan terlalu jauh . “o.. jadi buuswai ini harus selalu berhenti di setiap shelter,” ucap pane pelan sambil memasang wajah mikir. tak lama kemudian dia mulai mengeluh karena bagian sisi kiri terasa panas, tak heran karena matahari mulai menyondongkan tubuh nya kebarat dan sedangkan kapten melabuh armada bus nya ke utara, aku hanya tertawa meledek mereka sambil menawarkan bangku sampingku yang masih kosong, ahirnya pane tidak tahan dengan hawa panas yang menghujatnya dia pindah duduk di sebelahku, seorang wanita tua yang duduk dibelakang dengan sepontan angkat bicara “nek panas pindah kene, engko kene genti panas pindah kono meneh,” “ hehe enggeh mbah,” balasku . senyuman di diwajah tuanya sungguh ramah, ukiran keriput diwajahnya kontras dengan gigi nya yang sudah ompong. Mungkin usianya sudah lebih dari angka70 Aku sempat simpati melihatnya mulai dari saat di shelter tadi dia Cuma sendirian, aku seakan ingin megingat wajah sese orang seumuranya. Maaf bukan bukan berarti aku jatuh hati pada nenek itu, dan bukan berarti aku punya kelainan sehebat itu baru baru ini aku sedang teringat dengan sosok nenek ku.
aku dan pane mulai mengobrolkan lagi soal trayek bus ini menebak- nebak, dan lagi-lagi sok tau kini aku merasa obrolanku mulai sedikit keras, aku yakin seorang back packer yang baru datang di Negara yang baru dikunjungi nya pun tak akan mengobrolkan hal semacam ini. Namun tak lama kemudian sangkapten membawa armadanya berputar haluan bus pun kini menuju selatan dan panas matahari pun mulai meraba raba kami, “asu diapusi aku ngertio ora pindah,” ucapnya sambil memandang marah kepadaku. pember terlihat meringis di seberang, dan menyuruh pane duduk kembali di tempat nya semula. Tapi sepertinay pane malas melakukan hal itu atau mungkin malu. terlihat wanita muda berjilbab disamping pane, dari usia dan penampilan nya sepertinya dia tidak dari kuliah, sebenarnya aku ingin berbicara dengan nya atau mungkin berkenalan lebih tepat nya, tapi naas sepanjang perjalanan dia menyibukkan dirinya dengan bermain hape, sepertinya untuk menghindari obrolan ke-kampung-an kami. Dan sejujur nya juga tak ada setitik keberanian yang sedang bersinggah di saraf-saraf penggerak mulut ini untuk ber tanya, untuk menyapa, untuk ini, untuk itu dan seterus nya.. Bersambung di Empat Merapat (Bagian 2)
You must be logged in to post a comment.
LPM Journal » EMPAT MERAPAT (sambungan2) said on Wednesday, July 27, 2011, 18:15
[...] July 27, 2011, 18:10 This news item was posted in Pojok Sastra, Uncategorized category and has 0 Comments so far. Cerita sebelum nya di EMPAT [...]
LPM Journal » EMPAT MERAPAT (part3) said on Wednesday, July 27, 2011, 18:25
[...] EMPAT MERAPAT (part3) Wednesday, July 27, 2011, 18:24 This news item was posted in Pojok Sastra category and has 0 Comments so far. Cerita sebelum nya di EMPAT MERAPAT [...]