Sunday, May 20, 2012 | Register | Log in

Pemborongan Majalah Tempo

Tagged with:
Sunday, July 4, 2010, 9:53
This news item was posted in Laporan category and has 2 Comments so far.

“Tadi subuh, sudah diborong orang mirip polisi. Tapi mereka tidak berpakaian dinas” kata Saragih kepada Tempo, Senin (28/6). Media ramai membahas tentang pemborongan. Ini terjadi pada Majalah Tempo edisi 28 Juni – 4 Juli 2010. Majalah mingguan itu dikabarkan ludes diborong. Majalah dengan cover seorang perwira polisi sedang memegang tali yang diikatkan pada 3 ekor babi berwarna merah muda pada liputan utamanya mengenai “Rekening Gendut Perwira Polisi”.

Pemborong dikabarkan berjumlah beberapa orang tak dikenal. Bahkan pada Editorial koran Tempo dikabarkan ada saksi yang melihat pemborongnya berseragam dan menggunakan mobil polisi, pada rubriknya menurut agen diborong buser dari kepolisian. Para pemborong berani membayar lebih dari harga normal majalah. Majalah yang semula harganya Rp 27.000,-/ekslempar dijual seharga Rp 40.000,-/ekslempar. “Semuanya mencapai Rp 100-jutaan. Dan dibayar cash,” ungkap Rozak, salah satu agen Jakarta. Pemborong datang pukul 02.30 pagi sebelum majalah didistribusikan.

Liputan mengenai rekening 6 perwira polisi yakni, Inspektur Jenderal Mathius Salempang Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur, Inspektur Jenderal Sylvanus Yulian Wenas Kepala Korps Bigade Mobil Polri, Inspektur Jenderal Budi Gunawan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian, Inspektur Jenderal Badrodin Haiti Kepala Divisi Pembinaan Hukum Kepolisian, Komisaris Jenderal Susno Duadji mantan Kepala Badan Reserse Kriminal, dan Inspektur Jenderal Bambang Suparno staf pengajar di sekolah Staf Perwira Tinggi Polri. Dimana rekening para perwira tersebut berisi rekening yang mencurigakan, setoran-setoran yang tidak diketahui dengan jelas, transaksi yang tidak sesuai dengan profil (melampaui pendapatan bulanan (gaji) mereka). Dengan segalanya, Neta S Pane, Ketua Indonesia Police Watch mendorong untuk dilakukannya pembuktian terbalik dari para perwira.

Seperti yang dikabarkan Koran Tempo, Selasa, 29 Juni 2010. Pemborongan ini terjadi di Jakarta sebanyak 2425 eksemplar Majalah Tempo pada agen kawasan Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Agen di Jalan Pramuka-pun mengatakan 700 eksemplar ludes diborong. Agen luar Jakarta seperti di Bandung 1100 eksemplar habis, dan merupakan penjualan tercepat menurut Kepala Sirkulasi Tempo Daerah Bandung Didit Setiaji. Agen Bogor dan Tangerang pun demikian, diborong dan kehabisan Majalah Tempo. Majalah Tempo sendiri memutuskan untuk mencetak ulang edisi tersebut.

Wakil kepala Divisi Humas Markas Besar Kepolisian RI, Brigadir Jenderal Zainuri Lubis mengaku belum mengetahui ada aksi borong majalah dan juga keterlibatan oknum polisi dalam aksi borong tersebut. “Kami belum mendengar kabar itu,” ungkapnya. Dilansir Koran Tempo, 29 Juni 2010.

Editorial Koran Tempo menuliskan bahwa kejadian pemborongan ini bukanlah yang pertama kalinya. Majalah Tempo pada Maret 2008 diborong orang tak dikenal ketika mengangkat laporan tentang Korupsi di Kejaksaan Agung. November 2009 di Sulawesi Utara Tempo menghilang ketika laporan tentang korupsi yang diduga melibatkan pejabat tinggi daerah tersebut.

Ulah memborong untuk melenyapkan media dan menghambat tersampainya informasi kepada pembaca amatlah disayangkan, ketika dunia sudah beralih menggunakan teknologi digital, hal ini dinilai percuma. Memborong media tetap bisa dianggap menggangu kemerdekaan. Jelas dinyatakan bahwa pers nasional dijamin haknya bukan hanya untuk mencari dan memperoleh informasi tetapi juga menyebarluaskannya dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. -Zani N, Ika N.P

Sumber berita : koran tempo, tempointeraktif.com, kompas.com

Share

Tulisan Terkait

About Febtiana Santi

Manajer Konten lpmjournal.com

You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Pemborongan Majalah Tempo”

  1. Pesisir BJ said on Friday, July 16, 2010, 3:04

    Lah cuma ini saja, liputannya. Menyedihkan sekali ya. Masih saja terlelap dengan buaian kurangnya pemahaman bagaimana harusnya bercinta dengan Journal. Apa karena, dikira tidak ada yang mengakses laman ini. Huh…Anda keliru dalam hal ini, mbak Ika. Kosong, tanpa angle benaran.

  2. Pesisir BJ said on Friday, July 16, 2010, 3:09

    Lagi pengen mencerca, ilusi ternyata menyenangkan sekali.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.