Jas almamater sejatinya merupakan identitas sebuah perguruan tinggi. Dari jas almamaternya, kita bisa tahu di kampus mana seorang mahasiswa kuliah. STMIK Amikom Yogyakarta juga mempunyai identitas seperti itu. Jas almamater berwarna khaki dengan logo Amikom di bagian dada sebelah kiri.
Kenyataannya, jas almamater yang telah mahasiswa dapatkan itu jarang sekali dipakai, bahkan ada mahasiswa yang sama sekali belum pernah memakai jas almamater. M. Yusuf Gunawan, salah satu mahasiswa S1 SI 2C mengaku, “Saya belum pernah sama sekali memakai jas almamater, soalnya saya nggak ikut PPM (Pengggalian Potensi Mahasiswa, -red) dan belum pernah menjadi panitia suatu kegiatan.” (24/3)
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan Kampus Ungu bahwa jas almamater hanya dipakai oleh mahasiswa saat mengikuti PPM dan yang menjadi panitia suatu acara. Bisa pula bagi mereka yang ikut kegiatan lain di luar kampus yang mengatasnamakan STMIK Amikom Yogyakarta atau orma (organisasi mahasiswa). Belum ada aturan dari lembaga kapan mahasiswa diwajibkan memakai jas almamater.
Yusuf menambahkan, “Kalau misalnya dari pihak lembaga wajibkan memakai almamater, ya saya akan memakai. Kalau nggak, ya nggak. Soalnya modelnya kurang bagus. Coba modelnya keren, nggak disuruh pun bakalan saya pake. Nggak hanya pas kuliah, pas main juga.”
Roy Ekanala, selaku Ketua Senat Mahasiswa mengungkapkan, “Pada kenyataannya kampus kurang menghargai adanya jas alamamater. Kampus lebih mementingkan berpakaian matching daripada memakai jas almamater. Seharusnya almamater lebih berarti ketimbang sekedar pakaian matching.” (24/3)
Berdasarkan wawancara langsung dengan Suyatmi, S.E. selaku sekretaris Puket III, ia mengatakan, “Memang benar, sejauh ini belum ada yang mewajibkan event tertentu harus memakai almamater. Hanya saja disarankan saat mengikuti seminar atau kegiatan yang mewakili Amikom, sebaiknya memakai jas alamamater.” (25/3)
Sejauh ini yang memakai almamater setiap ada kegiatan hanya panitianya saja. Belum ada yang mensyaratkan peserta juga juga harus mengenakan almamater. “Takutnya, ntar kalau peserta diwajibkan memakai almamater, ntar yang ndaftar sedikit,” ungkap Nanda Riestya Wardana yang pernah menjadi panitia sebuah acara yang diadakan oleh UKI Jashtis. (24/3)
Mengenai beberapa mahasiswa yang memakai jas almamater di luar kegiatan kampus, misalnya untuk jalan-jalan, narsis-narsisan dan lain-lain, Suyatmi menanggapi, “Karena jas almamater merupakan identitas kampus, pakailah sesuai dengan fungsinya, jangan difungsikan untuk hal-hal yang memang tidak layak.”
Lain halnya dengan tanggapan Roy Ekanala, “Itu nggak apa-apa, malah bagus. Harusnya semakin banyak mahasiswa yang demikian, narsis-narsisan dengan jas almamaternya. Itu sebagai bukti kalau mereka bangga dengan jas almamater yang mereka miliki.” So, narsis dengan jas almamater, siapa takut… (dani,riri)
You must be logged in to post a comment.