Perwakilan LPM Journal menghadiri undangan dalam diskusi fotografi jurnalistik sensitif konflik. Diskusi tersebut digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta yang bekerjasama dengan Peace and Conflict Journalism Network (Pecojon), Selasa (19/04), di meeting room Hotel Indah Palace Yogyakarta.
Hadir sebagai pembicara, Charlie Saceda, jurnalis foto dari Filipina yang banyak meliput di wilayah konflik. Dalam perkenalannya, Charlie mengatakan bahwa ia telah memotret konflik di daerah Filipina Selatan sejak 1999. Charlie juga menceritakan bahwa ia pernah disandera oleh pasukan kelompok teroris Abu Sayyaf.
Berbekal pengalamannya selama belasan tahun meliput di daerah konflik, Charlie memaparkan masalah inti yang berupa peran jurnalis dalam konflik. Dengan hasil peliputannya, jurnalis diharapkan bisa memberikan informasi yang baik sehingga membantu meredakan konflik. Disamping memberikan informasi yang baik, jurnalis juga harus waspada terhadap propaganda.
Selain pemaparan dari Charlie, pertanyaan dan tanggapan banyak disampaikan oleh para hadirin diskusi seputar topik yang dibicarakan. Sharing dari beberapa wartawan yang berpengalaman meliput konflik juga mewarnai diskusi tersebut.
Acara yang dibawakan oleh Bambang Muryanto dari AJI Yogyakarta tersebut dimulai pukul 19.30 WIB dan selesai pukul 22.30 WIB. Di sela-sela membawakan acara, Bambang juga turut berkomentar. “Foto jurnalistik punya peran besar dalam penyelesaian konflik,” kata Bambang. (adm)
You must be logged in to post a comment.