Pagi di basement gedung IV kampus ungu, langit masih gelap. Berkumpul para mahasiswa berkaos putih dengan badge palang merah, bertuliskan PPPK STMIK AMIKOM YOGYAKARTA di lengan kirinya. Mereka mempersiapkan diri dan perlengkapan medisnya. Mereka adalah ujung tombak kesehatan mahasiswa baru dan panitia Penggalian Potensi Mahasiswa—ospek di kampus ungu (PPM) 2011.
Mahasiswa baru satu demi satu mulai berdatangan ke pos P3K seiring matahari yang semakin naik. Ketidaksiapan jasmani mereka—di tengah keramaian dan kemeriahan PPM—menjadi perhatian petugas P3K. Kadang petugas perlu menggandeng atau bahkan menggotong tandu untuk membawa mereka ke pos P3K.
Amin Rohani, salah satu petugas P3K, mengakui bahwa tugas yang diembannya bersama rekan-rekan memang berat. Dengan 26 personil (termasuk koordinator), mereka harus siap menangani keluhan kesehatan 2 ribuan mahasiswa selama berlangsungnya PPM. “Berat, Mas. Jadi kalau tanpa kerjasama dengan keamanan dan pemandu, kami tetap kewalahan,” ujarnya. Ada juga seorang petugas medis dari klinik kampus yang turut membantu.
Mencatat identitas pasien, memberikan minum teh hangat atau air putih, membantu dengan tabung oksigen adalah beberapa pelayanan yang diberikan petugas kepada pasien. Setelah pasien merasa cukup kuat mengikuti kegiatan lagi, petugas mengantarkannya kembali ke venue.

"Konsultasi". Mahasiswa baru peserta PPM 2011 ini diberi bantuan pengobatan oleh tenaga medis dari klinik kampus. (Journal/Adam)
Petugas P3K dituntut selalu siap dan tidak panik ketika menangani pasien, terutama jika ada yang berpenyakit kronis dan atau mahasiswa pingsan. Pelatihan dari PMI yang sempat diikuti, setidaknya dapat mengurangi kepanikan.
Kerja keras mereka patut dihargai. Setidaknya dalam masa PPM ini, peserta maupun panitia memerlukan bantuan petugas P3K jika ada kendala dengan kesehatan dalam tugas.
You must be logged in to post a comment.