Reporter: Adam Ghifari N., Diska N.A.
__
Udara panas terasa siang itu di tengah kota Yogyakarta. Namun suasana nyaman cukup terjaga oleh rindangnya pepohonan, di halaman depan kompleks Taman Budaya. Alunan musik gamelan dan suara percakapan terdengar dari sound system di dalam gedung Societet. Memang tidak banyak orang, karena pertunjukan yang terjadwal hari itu, 26 November 2011, baru akan dimulai pukul 19.30 malam. Siang itu cukup pemain dan kru yang berkepentingan saja untuk gladi resik. Di hari terakhir rangkaian acara Festival Ketoprak 2011 itu, kontingen Kabupaten Gunungkidul terjadwal sebagai peserta.
Gladi resik penting dalam persiapan pementasan, apalagi untuk cabang seni teater tradisi ini. Menyatukan gerak teatrikal dengan musik pengiring tidak mudah. Seperti yang diceritakan oleh Gondhol Sumargiyono, sutradara kontingen Kabupaten Gunungkidul. Untuk festival tingkat propinsi ini, ia perlu waktu sekitar dua bulan dalam mempersiapkan pementasan, dari mulai penulisan naskah hingga latihan.
Sumargiyono untuk kedua kalinya dipercaya Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul menjadi sutradara. Pada festival serupa tahun lalu, ia merangkul para seniman dewasa sebagai pemeran. Namun, Sumargiyono yang mengajar di SMK Negeri 2 Wonosari, tahun ini mengerahkan anak didiknya. Ditambah beberapa siswa dari sekolah lain. Ia memilih cara demikian untuk mempermudah proses latihan. Dan tujuan yang lebih penting, tentu memperkenalkan ketoprak kepada generasi muda.
Sebagai orang yang menekuni kesenian bidang teater tradisi, Sumargiyono merasa mempunyai tanggungjawab moral untuk mewariskan apa yang telah ia pelajari kepada generasi muda. Itulah mengapa ia membuat pementasan ketoprak ini seperti kolosal, yang diikuti lebih dari 50 pemain. Dengan banyaknya siswa sekolah yang berperan dalam pementasan ini, proses pengenalan dan regenerasi kesenian ketoprak akan semakin signifikan dibandingkan jika hanya beberapa orang saja.
Tak Terbatas Konsep Asli
Ketoprak, dalam upaya pelestariannya, perlu semacam pengembangan agar tidak terkesan statis di mata generasi muda. Sebenarnya ketoprak memang tidak statis, versinya bisa macam-macam. Namun di ranah festival tentu lebih mengarah ke konsep baku. Tapi jika untuk keperluan pengenalan, tidak perlu ngotot harus menggunakan konsep baku.
Bakunya konsep ketoprak dalam festival sangat mudah dirasakan dari idiomnya. Iringan gamelan dan tembang harus ada. Namun ketika sudah pada tahap pengembangan, ketoprak ini dapat lebih lentur. “Sekarang sudah ada ketoprak humor, mau diapakan pun boleh,” kata Sumargiyono.
Cerita yang dimainkan oleh Gunungkidul pada festival ketoprak ini berjudul Udharing Janget Kinatelon. Menggambarkan perpecahan kerajaan Mataram Ngayogyakarta, Mataram Surakarta dan Mangkunegaran, dimana ketiganya itu sebenarnya adalah saudara.
Cerita tentang perpecahan ini mengandung sisi positif, yaitu pesan moral. Persatuan dan kesatuan harus dijaga. Kesadaran terhadap persaudaraan itu penting untuk menjaga keutuhan. Politik adu domba tak seharusnya membutakan pandangan persaudaaran.
You must be logged in to post a comment.
zani said on Saturday, December 17, 2011, 2:14
mantab anak muda, ketika kesenian harus kembali berdenyut melawan. seperti halnya genre perlawanan, “Ketoprak Not Die”.
adamghif said on Saturday, December 24, 2011, 15:18
yups. Mantab anak tua. ha ha