Salam Redaksi
Kurikulum tentu tidak ‘diciptakan’ oleh pendidik pada saat mengigau. Ini adalah keputusan penting dari banyak pertimbangan yang seharusnya matang. Pembuat kurikulum tidak sedang bercanda ketika mengumumkan rangkaian mata kuliah yang harus dilaksanakan dalam proses akademik bukan? Segala bentuk penyimpangan materi kuliah oleh dosen –sekalipun dengan kesepakatan mahasiswa- seharusnya tidak dapat dibenarkan. Ataukah memang ada pembenaran? Kalau begitu, bagaimana jika mahasiswa dan dosen sepakat untuk memboncengi mata kuliah Filsafat Ilmu dengan materi Ilmu Ternak Unggas? Anda boleh memprotes bahwa kedua hal tersebut tidak bisa diperbandingkan sebab terlalu ekstrem. Nah, di situ point pentingnya. Sejauh mana batas agar sebuah penyimpangan boleh dibenarkan? Saya kira harus ada kesepakatan tertulis mengenai hal ini.
Anda bisa berkelit dengan mengklaim bahwa mata kuliah yang direncanakan di kurikulum terkadang kurang praktis, dan bahwa mahasiswa butuh sesuatu yang lebih realistis dari teori. Tapi, jangan lupa bahwa kurikulum punya target. Setelah lulus dari mata kuliah tertentu, mahasiswa harus paham tentang apa? Interaksi Manusia dan Komputer tentu lebih substansial kaitannya dengan ilmu informatika. Dan bahwa seseorang tak harus kuliah secara khusus untuk bisa berhasil menjadi ahli SEO. Jika memang dirasa bahwa ada mata kuliah yang tidak bermanfaat, lebih adilnya, hapus saja dari kurikulum.
Tapi, masalahnya berikutnya adalah, bisakah Anda menemukan kata kunci ‘Menghasilkan Dollar dari Internet’ di antara nama mata kuliah yang diakui di Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri (EPSBED)? Kata kunci tersebut malah lebih populer di Google, di mana orang tak perlu kuliah untuk bisa membuka laman Google. Salam Google, salam pers mahasiswa!
You must be logged in to post a comment.