9 Desember 20011. Warna jingga masih mendominasi langit barat sore itu di kelurahan Tegal Panggung kecamatan Danurejan, tampak seseorang sedang membuat aliran air dengan batu di bawah jembatan. Sungai Code masih terlihat dangkal dengan material bawaan dari lereng merapi. Kusandarkan sepeda ku di trotoar jembatan, dan sejenak mengambil gambar dengan kamera analog pinjaman. Disisi lain jembatan seorang bapak sedang mengamati aliran sungai yang tak lama kemudian lalu mengahampiriku “monggo mas, turun kebawah situ lho gak papa,” sapa nya.
Namanya adalah Subandi, kaos coklat tanpa lengannya bisa menunjukan gradasi warna kulit dari coklat tua ke muda, celana abu-abunya di linting hampir selutut, jenggot dan kumis yang pedek terlihat putih jarang-jarang, umurnya mungkin sekitar 50 tahunan. Orang kampung sering memanggil nya Baidi, imbuhnya saat kami berkenalan.
Sambil menunjukkan jari telunjuk nya ke arah gunung Merapi, dia menjelaskan daerah lereng gunung tidak hujan, yang berarti bahwa tidak akan terjadi banjir. Memang Baidi adalah warga bantaran kali Code yang selalu siaga dengan banjir khususnya di musim penghujan seperti ini. “Disini kita meronda tidak merondai maling tapi merondai banjir,” gurau nya.
Bila Water level yang ada di dinding sungai sudah menunjuk ke angka 140, warga harus efakuasi diri. Alat Warning system juga tidak bisa di andalkan, karena sering konslet terkena air. Baidi juga mengatakan bahwa warga dikampungnya sudah mulai terbiasa. “Tinggal nunggu pemerintah, kalo suruh evakuasi ya evakuasi,” imbuh nya. Banyak yang mencibir Baidi ketika dia sering ikut menanggulangi banjir, tidak hanya tetangganya tapi juga keluarganya bahkan Baidi pernah di sebut orang gila. “Mbok ya ngurusin keluarganya dulu malah ngurusin orang lain. itu kan udah ada yang ngurus nanti ,” ucap nya menirukan keluhan keluarga.
Baidi juga bercerita dirinya mempunyai banyak teman relawan mahasiswa, salah satu nya dari kupang. “Saya tidak melihat sukunya, tapi bagai mana kemauan dia untuk membantu. Dia merasa tinggal di jogja, mungkin dia juga merasa memiliki hingga merasa harus membantu,” jawab nya saat saya bertanya, apakah kupang nusa tenggara barat. Temannya yang lain adalah salah satu wartawan koran nasional. dia sering menghubungi Baidi melalui SMS, untuk menanyakan kondisi kali Code. “kalo ada pulsa saya balas, tapi kalo tidak ya cuma diliatin aja to,” ceritanya, sambil tertawa.
Saat di tanya tentang sungai yang mendangkal dan tidak di keruk, Baidi pun berkeluh kalau pemerintah terlalu banyak alasan. Mulai dari dana, tidak adanya tempat masuk alat berat, sampai menggangu ekosistem. Baidi juga mengaku tidak terlalu berharap bantuan pemerintah, yang nanti malah justru menimbulkan ketergantungan “kalo saya sebenar nya juga tidak terlalu berharap bantuan pemerintah, nanti kita ndak jadi males,” imbuh nya. Baidi juga menyinggung kinerja pemerintah daerah yang terkesan lamban dalam menanggapi laporan-laporan dari warga.
Sejenak Baidi menatap aliran sungai di bawah kami, seakan ingatan Baidi melayang kembali ke masalalu. Baidi mulai bercerita bagaimana sungai Code dulu yang bersih di tahun enampuluhan, Baidi juga mengaku di waktu itu air sungai bisa langsung diminum. “kalo boleh saya bilang ini nama nya selokan bukan sungai. kalo sungai kan pinggir nya banyak pohon, bukan di buat-buat seperti ini,” Baidi juga memaklumi banyak nya orang yang tinggal di pinggiran sungai, karena harga tanah dan sewa rumah yang cukup mahal di kota . “iya kalo saya bilang ini selokan bukan sungai,” tutur nya lagi dengan mantap.
Azan mahrib mulai bergema. lagit barat kini lebih terlihat gelap, semburat warna jingga nya mulai menghilang, dan digantikan jingga yang lain dari lampu-lampu kota bertempurung kaca dengan tiang hijau. Saya pun mulai berpamitan dengan Baidi menyudahi perbincangan baru kami. Meninggal kan rasa nyaman dari sebuah jembatan pendek yang mendadak sepi, dan kembali mengayuh diantara mesin-mesin beroda yang membuat jalanan terasa sempit. Ferry
You must be logged in to post a comment.
zani said on Saturday, December 17, 2011, 2:09
Lusa, saya mampir ke jembatan kleringan, liat excavator, pembangunan jembatan baru. Tapi suasana tak mendukung, para pekerja sedang konsentrasi. Dan kamu, mas fery, beruntung sekali, bertemu orang lokal yang arif.
feryeka said on Monday, December 19, 2011, 12:34
Kapan-kapan mungkin kita perlu jalan jalan ke perkampungan di bawah..
atau bermain air saja.:]